REMPUNGBLOGS

Just another WordPress.com site

GEMA UNRAM

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Krisis Ekonomi yang terjadi di Indonesia telah banyak menyentuh semua sisi kehiduan masyrakat dari lapisan atas hingga lapisan bawah. Banyak sekali masyrakat yang sudah kesulitan untuk mendapatkan penghasilan untuk digunakan sebagai biaya hidup sehari-hari. Kesulitan tersebut dikarenakan mereka sudah tidak punya lahan lagi untuk berusaha baik itu karena di-PHK atau usaha yang yang biasanya diandalkan mengalami kebangkrutan sebagai imbas dari krisis ekonomi yang melanda. Keadaan itu semakin diperparah karena kurangnya kemampuan untuk membuka lahan usaha baru yang lebih prospektif dan mampu digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari ( Hidayat, 2000 )

Sejak pertengahan 1998, terjadi peningkatan yang cukup signifikan pada jumlah pengangguran karena tutupnya perusahaan-perusahaan di Indonesia. Data dari Departemen Tenaga kerja tahun 2007 mencatat jumlah pengangguran terbuka di Indonesia 10.547.917 orang, sedangkan target pertumbuhan ekonomi yang ditetapkan pemerintah adalah 6%, jika diasumsikan setiap 1% pertumbuhan ekonomi menghasilkan 265.000 lapangan kerja baru. Berarti dengan pertumbuhan ekonomi 6%, kita hanya bisa menambah jumlah lapangan kerja 1.590.000. Ini berarti di dalam negeri masih kekurangan 8.957.917 lapangan kerja. Di antara banyaknya pengangguran di negeri ini yang justru paling mengenaskan adalah ada lebih dari 50% sarjana yang menganggur, padahal mereka inilah yang diharapkan menjadi agent of change yang bisa membawa kemajuan bagi bangsa ini ( Pikiran Rakyat, 2007 ).

Seharusnya jumlah Wirausaha di Indonesia saat ini sedikitnya 4.400.000 atau 2% dari total jumlah penduduk, Namun saat ini baru ada 400.000 pengusaha di Indonesia. Di sisi lain, peningkatan jumlah penganggur semakin didominasi oleh penganggur yang terdidik. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan, jumlah penganggur yang berpendidikan universitas meningkat dari 409.900 0rang pada Februari 2007 menjadi 626.200 orang pada Februari 2008 atau meningkat sebesar 28%, dan pada periode yang sama, penganggur yang berpendidikan diploma naik menjadi 57% dari 330.000 orang menjadi 519.000 orang ( Kompas, Nopember 2008 ).

 

Sementara itu, pemerintah sudah tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai bagi para sarjana tersebut. Pemikiran yang kreatif dan Inovatif dari para sarjana harus lebih banyak dikembangkan guna lebih menciptakan lapangan kerja baru. Sampai saat ini dunia wirausaha belum merupakan sebuah lapangan yang diminati dan dinanti bagi para sarjana yang sedang putus asa mencari pekerjaan. Pada dasarnya dunia wirausaha merupakan pilihan yang cukup rasional dalam situasi dan kondisi yang serba sulit untuk mendapatkan lapangan pekerjaan, tetapi kelihatannya terdapat sebuah persepsi yang memunculkan image yang buruk pada dunia wirausaha. Image buruk tersebut sebenarnya berupa keyakinan-keyakinan yang subyektif yang tidak mengandung kebenaran yang objektif. Berdasarkan kerangka pemikiran Banfe ( 1991 ), prasangka buruk ini disebut mitos, dan mitos ini harus segera dihilangkan.

Menurut Baumassepe ( 2001 ), sangat masuk akal bagi mahasiswa ( dengan atribut-atribut yang dimilikinya )untuk berpola pikir sebagai seorang wirausahawaan. Saatnya mhasiswa kembali ditantang untuk menjadi agent of change di bidang ekonomi maupun di berbagai kehidupan yang lain, misalnya dengan ikut kegiatan kemahasiswaan di dalam maupun di luar kampus yang bersifat non profit atau sosial. Tinggal bagaimana mahasiswa mempersiapkan bekal untuk maju ke medan perang tersebut.

Kewirausahaan merupakan alternative pilihan yang paling tepat bagi mahasiswa untuk mengembangkan potensinya. Sebenarnya mahasiswa telah melakukan kegiatan atau perilaku wirausaha. Perilaku kewirausahaan ini bisa dilihat dari kegiatan wirausaha mahasiswa baik di luar maupun kewirausahaan dalam organisasi ( Intrapreneurhsip ). Mahasiswa juga telah melakukan perilaku kewirausahaan sesuai dengan cirri-ciri dan sifat seorang wirausahawan. Di dalam organisasi maupun dalam melaksanakan kegiatan kemahasiswaan, mahasiswa telah membuktikan diri sebagai seorang wirausaha, misalnya saat dia harus memutuskan sesuatu untuk kegiatannya, mengadakan kegiatan seminar atau workshop, memutuskan untuk mendirikan unit kegiatan tertentu, tentunya dengan segala resiko yang harus ditanggungnya. Hal ini senada dengan pendapat Baumassepe ( 2001 ) bahwa mahasiswa mempunyai sifat rela berkorban dan berani mengambil segala resiko terhadap cita-cita yang diperjuangkannya. Dan terakhir adalah berpandangan dan berpengetahuan luas. Jelas mahasiswa adalah golongan Intelektual, karena lahir dari tempat-tempat yang menjadi sumber pengetahuan ( pergurungan tinggi ). Dengan bekal pengetahuan dan ilmu yang dimiliki setidaknya menjadi embrio untuk lahir menjadi seorang wirausahawan sejati

Kecerdasan emosional adalah merupakan jembatan antara apa yang ingin kita ketahui, dan apa yang kita lakukan ( Purdi, E. Chandra, Cara Gila jadi pengusaha ). Kecerdasan emosional penting, terutama dalam melakukan sesuatu untuk mewujudkan keinginan dan impian. Sesuatu yang kita yakini bakal tercapai dengan mengedepankan intuisi atau optimisme akan membuat sesuatu yang kita angankan benar-benar menjadi kenyataan atau cepat terwujud. Kebiasaan ini sangat penting bagi seorang entrepeneuer dalam memulai atau mengembangkan usaha atau bisnis. Dengan semakin tinggi kecerdasan emosional, kita akan semakin terampil melakukan apapun yang kita ketahui benar. Penulis menyadari, seorang wirausahawan yang memiliki kecerdasan emosional yang optimal, akan lebih berpeluang mencapai puncak keberhasilan. Wirausahawan yang memiliki kecerdasan emosional yang optimal, akan tetap menganggap, bahwa krisis itu adalah sebuah peluang. Itulah sebabnya entrepeneuer itu harus tetap jeli dalam memanfaatkan emosinya, dengan memiliki kecerdasan emosional yang optimal, akan lebih bisa mentransformasikan situasi sulit. Bahkan, juga akan semakin peka akan adanya peluang entrepeneuer dalam situasi apapun dan yakin akan mampu untuk mengatasi konflik.

Di sisi lain, Chandra ( 2001 ) menyatakan bahwa wirausahawan perlu mengembangkan kecerdasan emosionalnya sehingga wirausahawan akan mampu melihat peluang usaha yang ada di sekitarnya. Wirausahawan yang cerdas emosinya tentunya memiliki intuisi yang tajam. Wirausahawan dapat menangkap sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Walaupun data tidak lengkap, Ia biasanya dapat mengambil konklusi yang tepat.

 

Oleh sebab itu, seorang entrepeneuer akan lebih sering memaksimalkan peran

otak kanannya ketimbang hitung-hitungan yang rasional yang hanya membuat kita mandeg dan takut melangkah ( Early rahmawati, memulai usaha dengan modal dengkul,

2003 ). Dengan mengedepankan kecerdasan emosional dan lebih menggunakan otak

kanan, akan menjadi orang pemberani, karena memang hanya orang pemberani yang

akan sukses menjadi entrepeneuer. Keberanian seorang entrepeneuer untuk membuka

usaha itu sama dengan keberanian menghadapi resiko. Dengan pemandangan otak kanan,

maka resiko itu justru sebuah peluang meraih rezeki. Resiko besar maka peluang

rezekinya pun besar.

Sebagai wirausahawan, Mahasiswa juga harus merupakan orang yang action of oriented, bukan no action, dream only dalam kondisi apapun sehingga diperlukan kesanggupan berpikir secara detil terhadap hal-hal yang penting. Bila kemudian muncul resiko, dia siap menanggung segala resiko apapun atas aktivitasnya, namun secepat itu pula, dia akan berbenah diri dan melangkah maju untuk lebih baik ( Chandra, 2001 ). Tentu, Perilaku kewirausahawan yang telah dilakukan oleh mahasiswa dalam berbagai kegiatannya membutuhkan kecerdasan emosional yang optimal.

Mengedepankan kecerdasan emosional bisnis kita itu adalah hal yang mutlak . Kesuksesan bisnis memang sangat terkait langsung dengan kecerdasan emosi Entrepeneuer ( Purdi, E. Chandra, Cara Gila jadi Pengusaha ). Maka, tak ada salahnya faktor kecerdasan emosional itu perlu dikedepankan. Hal itu, saya pikir langkah yang tepat di dalam kita ingin meraih keberhasilan bisnis dan kehidupan sehari-hari.

Melihat realitas dari pentingnya kecerdasan emosional yang harus di miliki oleh para Entrepeneuer seperti yang telah diakui oleh para Wirausahawan sukses, membuat penulis tergelitik untuk melakukan penelitian dan pengkajian masalah tersebut dalam tugas akhir Study penulis ( Skripsi ), Sehingga penulis ingin meneliti ” apakah ada pengaruh kecerdasan emosional terhadap perilaku kewirausahaan mahasiswa . Hubungan yang signifikan berarti semakin tinggi tingkat kecerdasan emosional, maka semakin tinggi tingkat kewirausahaanya. Sebaliknya, semakin rendah tingkat kecerdasan emosional, maka semakin rendah tingkat kewirausahaanya. Penelitian dan Pengkajian ini akan dilakukan terhadap Mahasiswa yang mengikuti Program Gerakan Entrepeneur Mahasiswa (GEMA ) Unram.

Perkembangan dunia pendidikan tinggi ditandai dengan terus meningkatnya lulusan sarjana setiap tahunnya. Peningkatan jumlah sarjana, bila tidak diimbangi dengan kualitas dan relevansi pendidikan akan dapat menambah jumlah lulusan yang tidak dapat terserap di pasar kerja. Di samping itu para lulusan sarjana hendak disiapkan untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. Hal ini membuat kemandirian mahasiswa dalam dunia kerja itu sangat rendah. Mereka masih menempatkan diri sebagai objek dari lapangan pekerjaan dan bukan sebagai subjek pekerjaan.

Pengaruh pendidikan kewirusahaan selama ini dipertimbangkan sebagai salah stu faktor untuk menumbukan dan mengembangkan hasrat, jiwa dan perilaku kewirausahaan dikalangan generasi muda ( kourilsky dan walstad, 1998 ). Terkait dengan pengaruh pendidikan kewirausahaan tersebut, diperlukan adanya pemahaman tentang bagaimana mengembangkan dan mendorong lahirnya wirausaha-wirausaha muda yang potensial sementara mereka masih berada dibangku study. Beberapa penelitian sebelumnya menyebutkan keinginan berwirausaha para mahasiswa merupakan sumber bagi lahirnya wirausaha-wirausha muda masa depan ( Gorman et al, 1997 ). Sikap, perilaku dan pengetahuan mereka tentang kewirausahaan akan membentuk kecenderungan mereka untuk membentuk usaha-usaha baru di masa mendatang.

Pergurungan tinggi memiliki keterbatasan memfasilitasi kebutuhan seorang mahasiswa agar memiliki jiwa entrepreneur yang dapat mencipatakan lapangan pekerjaan. Menjawab keterbatasan ini Dirjen Pendidikan Tinggi sebenarnya telah berupaya menumbuhkan jiwa Entrepreneur . diantaranya melalui program Co-operative Education yang disingkat Co-op.

Terbatasnya sumberdaya di perguruan tinggi dan lemahnya jaringan perguruan tinggi dengan dunia usaha merupakan kendali internal yang dihdapi. Di sisi lain, dunia usaha di NTB belum tergerak untuk bersinergi, kurangnya informasi dan belum berkembngnya dunia usaha menjadi kendala bagi dunia usaha untuk dapat berpartisipasi.

Melihat kendala internal perguruan tinggi dan tantangan eksternal yang dihadapi, diperlukan upaya yang kreatif untuk membantu meningkatkan jiwa Entrepreneur mahasiswa. Untuk itulah Dirjen Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional menyelenggarakan suatu program untuk meningkatkan entrepreneur mahasiswa. Setiap perguruan tinggi diberi kewenangan untuk mengelola program ini selanjutnya di Universitas Mataram program ini disebut Gerakan Entrepreneur Mahasiswa Universitas mataram atau GEMA UNRAM.

Dengan melatih kemampuan mahasiswa berwirausaha dari sekarang bisa diterapkan kembali setelah mereka ( Mahasiswa ) lulus dari bangku kuliah. Dalam Program GEMA Unram Mahasiswa tidak hanya di belaki tentang kewirausahaan, tetapi mereka juga diajarkan tentang pentingnya selalu mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenal emosi orang lain dan membina hubungan dengan orang lain. Adapun di model pemberian modal usaha melalui program GEMA UNRAM ini yaitu dengan cara bagi hasil antara mahasiswa dan universitas, dan mahasiswa yang berhasil mengelola usahanya wajib mengembalikannya dalam bentuk merekrut mahasiswa lainnya yang mau diajak untuk berwirausaha. Tetapi bagi mahasiswa yang ternyata usaha tidak berjalan dengan baik akan dipertimbangkan oleh universitas apakah dia harus mengembalikan modal usaha itu atau tidak, dan untuk mengetahui apakah usaha itu betul-betul dijalankan dengan baik akan diaudit oleh tim auditor Unram. Tidak semua kerugian akan dilepas begitu saja, kalau ruginya factor kelalaian atau kesengajaan mahasiswa, mereka harus mengembalikan pinjaman, tetapi kalau karena faktor ekonomi seperti pasar yang kurang bagus itu bisa dipertimbangkan untuk tidak dikembalikan.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, dapat dikemukakan permasalahan sebagai berikut :

  1. Apakah Variabel Kecerdasan Emosional yang terdiri dari komponen Ranah Intarpribadi, Ranah antarpribadi, Ranah penyesuaian diri, Ranah Penanganan Stress dan Ranah suasana hati umum berpengaruh signifikan terhadap perilaku kewirausahaan Mahasiswa?
  2. Manakah dari variabel kecerdasan Emosional dimaksud memiliki Pengaruh dominan terhadap perilaku kewirausahaan?

1.3. Tujuan Dan Manfaat Penelitian

1.3.1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah yang telah disampaikan oleh peneliti, maka tujuan penelitian ini ditujukan untuk :

  1. Untuk mengetahui pengaruh signifikan Variabel kecerdasan Emosional yang terdiri dari komponen Ranah Intrapribadi, Ranah antarpribadi, Ranah Penyesuaian diri, Ranah Penanganan stress dan Ranah Suasana hati umum terhadap perilaku kewirausahaan Mahasiswa.
  2. Untuk mengetahui Variabel kecerdasan Emosional dimaksud yang memiliki pengaruh dominan terhadap Perilaku Kewirausahaan Mahasiswa.

1.3.2. Manfaat Penelitian

  1. Teoritis memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan khususnya dalam bidang sumber daya manusia berupa tambahan referensi yang memungkinkan peneliti-peneliti yang akan datang dapat melakukan penelitian lebih lanjut terhadap masalah inteligensi emosional terhadap perilaku kewirausahawan dikalangan mahasiwa.
  2. Bagi penulis merupakan sarana pengembangan Intelektual yang mampu mempertajam daya pikir ilmiah penulis sendiri serta penerapan ilmu-ilmu yang diperoleh selama proses perkuliahan.
  3. Memberikan masukan bagi program GEMA UNRAM sehubungan dengan aspek inteligensi emosional mahasiswa sehingga diharapkan dapat mengembangkan potensi kewiraushawan dikalangan mahasiswa.
  4. Secara Akademik digunakan sebagai salah satu syarat untuk mencapai kebulatan Studi Strata Satu ( S-1 ) guna untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi ( SE ) pada Fakultas Ekonomi Universitas Mataram.

Maret 25, 2011 - Posted by | Skripsi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: