REMPUNGBLOGS

Just another WordPress.com site

”Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Untuk Meningkatkan Prestasi belajar IPA

BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah

Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) merupakan hasil kegiatan manusia yang diperoleh dari pengalaman melalui metode ilmiah. Metode ilmiah yang mencakup  pengamatan, perumusan masalah, dugaan, eksperimen, dan simpulan. Objek dan persoalan IPA adalah semua gejala alam dan peristiwa yang dapat diindera dan diukur. Oleh sebab itu, dasar pengembangan konsep-konsepnya adalah dari hasil pengamatan, percobaan atau eksperimen (Sujitno dalam  Siringoringo,  2004: 1). Mata pelajaran IPA diprogramkan untuk menanamkan dan mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kepada siswa serta untuk mencintai dan juga menghargai kebesaran Tuhan Yang Maha Esa (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dalam Siringoringo, 2004: 1).

Pembelajaran IPA bagi siswa adalah mengajak siswa belajar mengungkapkan gejala-gejala alam dengan mengikuti kaidah-kaidah ilmiah yang dilakukan oleh para peneliti IPA dan bukan mentransfer pengetahuan secara informatif. Belajar IPA harus melibatkan unsur-unsur proses atau aktivitas siswa baik secara mental maupun fisik agar siswa dapat memperoleh pengalaman-pengalaman belajar yang nyata. Dengan demikian, belajar IPA bukan hanya sekedar menghafal konsep tetapi siswa berusaha untuk menemukan konsep.

Namun kenyataan yang dijumpai di lapangan bahwa dalam pembelajaran IPA SD umumnya masih menunjukkan kualitas yang belum memuaskan. Selama proses pembelajaran, keaktifan guru SD pada umumnya sangat dominan dengan memberikan informasi, sementara siswa mendengarkan dan mencatat. Banyak guru mengajarkan IPA dengan cara yang kurang menarik atau membosankan, kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi aktif dan mengembangkan keterampilan dan sikap ilmuan, serta kurang mewujudkan interaksi antara siswa dan fenomena sains yang ada di lingkungan sekitar. Dengan demikian kegiatan pembelajaran IPA di SD pada akhirnya hanyalah pemindahan dan perolehan fakta-fakta yang selanjutnya menjadi bahan hafalan bagi siswa. Corebima (dalam Siringoringo, 2004: 2) mengatakan bahwa anak belum mampu berpikir kritis, maksimal, dan kurangnya nalar siswa belum dilakukan guru terutama berkaitan dengan penggunaan pendekatan dalam proses pembelajaran IPA, dan akhirnya berpengaruh pada perolehan prestasi belajar.

Berdasarkan hasil pengamatan melalui observasi dan wawancara kepada guru kelas (wali kelas IV A) yang dilakukan pada tanggal 30 Agustus 2010, menjadi ide awal penelitian ini ditemukan fakta bahwa siswa kelas IV A SDN 45 Mataram pada tahun ajaran 2009-2010 banyak mengalami kejenuhan atau kurang semangat belajar ketika belajar mata pelajaran IPA. Hasil ulangan harian pertama menunjukkan bahwa hanya ada 4 siswa (17%) yang mendapatkan nilai di atas 80, terdapat 6 siswa (29%) yang mendapatkan nilai antara 60–70, dan 13 siswa (54%) yang mendapatkan nilai kurang dari 60. Padahal Standar Ketuntasan Minimal (SKM) yang ditentukan oleh SDN 45 Mataram adalah 65,00. Nilai rata–rata yang dicapai siswa pada ulangan harian pertama 62,50, nilai rata–rata yang jauh di bawah Standar Ketuntasan Minimal yang ditentukan oleh SDN 45 Mataram pada tahun ajaran 2009–2010.

Dalam pembelajaran sehari–hari, guru menyampaikan materi selalu menerapkan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Kelihatannya siswa mampu menangkap atau mengerti tentang materi yang diterangkan, tetapi setelah siswa diberi kesempatan bertanya, sedikit sekali diantara mereka yang mengajukan pertanyaan. Ketika guru bertanya kepada siswa, hanya ada dua–tiga siswa yang bisa menjawab pertanyaan guru dengan benar, itu pun anak-anak yang pandai saja. Ketika guru memberikan soal–soal latihan, terdapat siswa yang duduk sambil tidur–tiduran, tampak kurang bersemangat dalam belajar. Ketika hasil pekerjaannya dikumpulkan dan dikoreksi bersama secara silang antar siswa sekelas dengan bimbingan guru, ternyata banyak siswa yang kesulitan dalam mengerjakan soal–soal latihan tersebut, mereka mencapai nilai yang rendah.

Akar penyebab kejenuhan atau kurang semangat belajar pada siswa  kelas IV A SDN 45 Mataram ini diduga karena guru kurang tepat dalam pemilihan strategi pembelajaran guru selalu menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan. Selain itu guru tidak menggunakan media pembelajaran. Hanya menggunakan buku paket dan latihan soal pada LKS, dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan penugasan, proses pembelajaran lebih banyak berpusat pada guru dan siswa sebagai pendengar saja. Menurut Wahyono (dalam Siringoringo, 2004: 4), salah satu penyebab utama kurangnya memotivasi siswa untuk belajar aktif adalah karena guru hanya bertindak sebagai ”penceramah ulung”. Dimensi yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran IPA adalah dimensi proses. Darmodjo dan Kaligis (1991/1992) menyatakan bahwa, melalui pembelajaran yang berdimensi proses, anak didik memperoleh pengetahuan dan kemampuan untuk menggali sendiri pengetahuan.

Dengan kondisi pembelajaran yang memprihatinkan penelaahan kembali praktek-praktek pembelajaran di sekolah-sekolah membutuhkan perhatian yang serius dari berbagai kalangan guna mencari alternatif pemecahan masalah yang tepat. Berbagai upaya telah dilaksanakan, akan tetapi persoalan yang mendasar yaitu praktek pembelajaran belum juga teratasi karena masih berpegang pada paradigma lama, praktek pembelajaran tradisional. Pada masa lalu praktek pembelajaran IPA terlalu terfokus pada guru, dan kurang berfokus pada siswa.

Pembelajaran inkuiri merupakan suatu komponen penting dalam pendekatan konstruktivistik. Pendekatan ini didasari oleh kenyataan bahwa tiap individu memiliki kemampuan untuk mengkonstruksi kembali pengalaman atau pengetahuan yang telah dimilikinya. Kemudian Dahar (dalam Siringoringo, 2004: 54) mengatakan bahwa ”pengetahuan yang diperoleh dengan belajar penemuan menunjukkan beberapa kebaikan antara lain seperti pengetahuan itu bertahan lama atau lama diingat, prestasi belajar penemuan mempunyai efek transfer yang lebih baik dari prestasi belajar lainnya, secara menyeluruh belajar penemuan meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan berpikir secara bebas”.

Berdasarkan uraian dan  latar belakang masalah di atas, maka sebagai upaya untuk meningkatkan prestasi belajar IPA, termasuk juga di dalamnya yaitu meningkatkan aktivitas belajar IPA kelas IV A SD, peneliti merasa perlu untuk memberikan masukan dalam mengatasi permasalahan dalam pembelajaran IPA tersebut. Dengan demikian, peneliti mencoba merancang suatu penelitian dengan judul: ”Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Untuk Meningkatkan Prestasi belajar IPA Pada Siswa Kelas IV A SDN 45 Mataram Tahun Pelajaran 2010/2011”. Menurut peneliti dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri siswa diberikan kesempatan untuk dapat mengalami sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang suatu obyek. Sehingga diharapkan di dalam diri siswa akan benar-benar tertanam konsep yang matang dan secara tidak langsung dapat meningkatkan pemahaman konsep, termotivasi belajarnya, serta dapat menumbuhkan anggapan bahwa mata pelajaran IPA itu tidak sulit untuk dipelajari. Selain itu, dalam hal ini kepala sekolah dan guru kelas (wali kelas IV A) telah memberikan kesempatan kepada peneliti untuk melakukan penelitian di SDN 45 Mataram.

 

B. Rumusan Masalah.

Berdasarkan latar belakang seperti yang diuraikan di atas, maka rumusan masalahnya adalah: Bagaimanakah Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri yang  dapat Meningkatkan Prestasi Belajar IPA pada Siswa Kelas IV A Semester 1 SDN 45 Mataram Tahun Pelajaran 2010/2011?

 

C. Tujuan Penelitian.

Berdasarkan rumusan masalah tesebut di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini adalah: untuk meningkatkan prestasi belajar IPA pada  siswa kelas IV A Semester 1 SDN 45 Mataram Tahun Pelajaran 2010/2011 dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri.

 

D. Manfaat Penelitian.

Dalam kegiatan penelitian ini diharapkan memperoleh guna dan manfaat, adapun guna dan manfaat yang diharapkan dapat diambil dari penelitian ini adalah:

 

  1. Manfaat Teoritis

1.1    Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai sumber informasi tentang penerapan model pembelajaran inkuiri dalam meningkatkan prestasi belajar siswa.

1.2    Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan IPA khususnya dalam penerapan model pembelajaran inkuiri.

 

  1. Manfaat Praktis

1.1    Bagi Kepala Sekolah.

  1. Sebagai dasar untuk melakukan supervisi terhadap pembelajaran yang terjadi di sekolah.
  2. Sebagai dasar untuk meningkatkan sarana dan prasarana pembelajaran di sekolah.
  3. Sumber informasi yang dapat digunakan sebagai bahan dalam meningkatkan mutu pencapaian tujuan pendidikan melalui upaya peningkatan kualitas proses kegiatan belajar mengajar.

1.2    Bagi Guru

  1. Untuk meningkatkan profesionalitas dalam menjalankan tugas mengajar yang melibatkan siswa secara menyeluruh dalam pembelajaran.
  2. Dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam meningkatkan pembelajaran yang berkaitan dengan permasalahan kehidupan sehari-hari.
  3. Sebagai masukan untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan strategi pembelajaran yang sesuai dengan bidang studi, dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa.

1.3    Bagi Siswa

Penggunaan model pembelajaran inkuiri dapat menumbuhkan minat belajar siswa, meningkatkan aktivitas siswa di dalam kelas, dan meningkatkan partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran.

1.4    Bagi Peneliti

Sebagai bahan untuk memperkaya ilmu pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan penelitian serta untuk menambah wawasan peneliti tentang hal-hal yang berkaitan dengan proses pembelajaran.

 

E. Definisi Operasional.

  1. Model pembelajaran inkuiri dalam penelitian ini adalah rangkaian kegiatan pembelajaran IPA pada siswa kelas IV A Semester 1 SDN 45 Mataram, yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri dari jawaban yang dipertanyakan. Adapun langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran inkuiri adalah : 1) Mengajukan pertanyaan atau permasalahan, 2) Merumuskan hipotesis, 3) Mengumpulkan data, 4) Analisis data, 5) Membuat kesimpulan.
  2. Prestasi belajar dalam penelitian ini merupakan gambaran tentang tingkat penguasaan siswa kelas IV A Semester 1 SDN 45 Mataram terhadap tujuan belajar pada topik bahasan (materi) yang dieksperimenkan, yang diukur dengan berdasarkan jumlah skor jawaban benar pada soal yang disusun sesuai dengan tujuan pembelajaran. Prestasi belajar terdiri dari aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.
  3. Pembelajaran IPA dalam penelitian ini merupakan proses membelajarkan peserta didik dalam mempelajari peristiwa atau gejala alam melalui serangkaian proses dan metode ilmiah sehingga dapat tercapai tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. Materi yang akan disampaikan dalam penelitian ini adalah ”struktur bagian tumbuhan” pada siswa kelas IV A semester 1 tahun pelajaran 2010-2011.

 

 

 

 

 

 

About these ads

Maret 25, 2011 - Posted by | Skripsi

Belum ada komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: